Anda telah masuk di zona Wonua Wulele Sanggula

Pages

Assalamualaikum Banggona Anawai

Selamat Datang di Wonua Sanggula..@_^
Diberdayakan oleh Blogger.

My Big Family

My Big Family
Yanti, Leli, Mama, Aku dan Nur

Mengenai Saya

Foto saya
Universitas Haluoleo adalah kampus di mana Dia Kuliah. Sejak kelulusannya di SMA N 1 Lainea tepatnya di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara pada tahun 2008, dia langsung melanjutkan perguruan tingginya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yaitu di jurusan Bahasa dan Seni. Pasnya di Program Studi pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Daerah. Sejak duduk di bangku SMP yaitu SMP N 1 Lainea pada tahu 2002 dia sudah hobi menulis cerpen dan puisi. Menjadi anak bungsu dari lima bersaudara ini tidak terlihat begitu manja seperti anak-anak bungsu lainnya. Ini bisa terlihat dari keaktifan dan kesungguhannya mengurus beberapa organisasi antara lain menjadi pengurus Lingkar Studi Ilmiah Penalaran (LSIP), Semai Intelektual Muda Konawe Selatan (SIM Konsel), UKKI, Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, dan organisasi eksternal kampus lainnya. Dia sangat hobi jalan-jalan mendatangi tempat yang belum pernah dikenalnya. Dan dia sedang berencana dengan sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat yang sangat diimpikannya sejak 2009. Masih rahasia.. hehe.. selamat membaca Blog Putri Anawaingguluri.

Rabu, 08 Mei 2013

Amanah Menjadi Ukhti


Bismillah… Dik, jagn lupa bsok
 jam 8 kita mlai tarbiyah. Ok
 Kk tggu yah di mushalla. Smga ttp SEMANGAT…!
Lama aku melihat layar handphone-ku hingga kelihatan mulai redup karena sudah berapa detik tak satu pun tombol yang kutekan. Kembali kurebahkan tubuhku di atas kasur setelah terbangun dari bunyi sms masuk.
Tak ada niat untuk membalas. Yang ada di benakku, aku hanya ingin tidur dan melanjutkan mimpiku.
Hening. Tanda dini hari mulai tiba. Namun hatiku tak mau mengikuti nafsu tidurku. Mulai kepikiran dengan sms yang baru saja mengganggu mimpiku.
“Hummmm…!”
Dengan nafas panjang aku beranjak ke meja belajar. Di sana tetap dengan posisi semula, novel Rumah Kaca masih terbuka. Dengan pembatas buku pemberian senior yang bertuliskan ‘bahagiakan diri dengan satu istri’. Bibir kiriku hanya terangkat sedikit. Tepat pada halaman 357, aku hanya sekilas membaca salah satu paragraph yang menarik perhatianku. Bunyinya seperti ini!
Tidak seperti pada umumnya tulisan Pribumi, apalagi tulisan orang-orang Jawa, tulisannya tidak punya kompleks, maka tentu ia tak punya cacat badan ataupun jiwa. Boleh jadi cantik dan lembut. Sejak kecil dibuai oleh kasih-sayang orangtua dan lingkungan hidup yang mungkin membikin ia tidak punya kompleks macam-macam.
Aku ingin melanjutkan bacaan itu namun jam weker di meja belajarku sudah menunjuk pukul 01.47. Segera kututup novel karya Pramoedya itu dan kembali ke tempat tidur. Malam semakin dingin, mata tak juga mau terpejam. Kutarik handphone-ku yang tadi kusimpan di bawah bantal. Tampilannya masih tetap, sms dari Kak Amanah. Kucoba untuk mencari tahu sejak kapan Kak Amanah mengirim sms dan ternyata sejak jam tujuh lewat. Kira-kira setelah shalat isya. Karena seperti biasa sms Kak Amanah muncul sekitaran jam itu.
“astaga…,sa belum shalat isya”.
 Aku baru sadar ternyata aku tidur sejak jam setengah tujuh.
 “aduh, bagimanami, Shalat nda yah?”
“tapi sekarang kan sudah hampirmi jam dua!” aku menyesali diriku sendiri.
Aku langsung mengetik sms buat Kak Amanah. Dan aku sangat senang dan lega setelah menerima balasan dan penjelasan dari Kak Amanah. Dia menyarankan lansung saja ambil air wudhu dan niatkan shalat isya kemudian lanjutkan dengan sahalat tahajud dan dilengkapi dengan hadist-hadist pendukungnya. Dan ternyata saat itu Kak Amanah sedang baca Quran setelah melaksanakan shalat tahajud. 
Akupun tidur kembali setelah meng-sms Kak Amanah, aku siap untuk datang tarbiyah tepat pada waktu yang telah disepakati.
***
“Ma, Al mau pergimi dulu nah.”
“ Ada angin apa di’ sepagi ini kamu buru-buru ke kampus” melihat tingkahku Mama heran.
“Alisa sarapan dulu, ini sudah hampir selesai”  tegasnya.
“Mo terlambatmi Ma, nanti saja, Al juga cepat pulangji hari ini”
“Hmmn, terserahmi kamu yang penting Mama tidak mau dengar lagi kamu mengeluh sakit.”
“Oke Bos” sambil mencium punggung tangan mama aku pun beranjak pergi, ”assalamualaikum”.
Sambil tersenyum mama menjawab salamku, “walaikumsalam”.
Aku hanya tersenyum lega. Pagi yang cerah. Aku tepat di bawah cakrawala membiru diwarnai awanan lembut. Sepanjang jalan kampus hijauku diiringi kicauan burung-burung, seakan menggodaku untuk menyempatkan waktu bermain dengan mereka. Sayang aku tak paham apa maksud parole yang kalian bunyikan. Sinar mentari pun sedikit mengintip di sela daun-daun jati di pinggir jalan. Rupanya alam tahu isi hatiku pagi ini.
“iya, Al sedang bahagia hari ini” kataku sedikit berbisik di tengah kabut yang mulai lesap.
Bersama kerianganku, sampailah aku di hadapan sebuah benda besar berbentuk kubus putih. Bersih. Kelihatan tenang. Di atas kubus itu ada lagi sebuah limas segi empat berwarna hijau. Mengingatkan aku pada pelajaran matematika di SD tentang bangun ruang. Sangat rapi. Begitu pula orang-orang yang ada di dalamnya semuanya tampak senang dan wajahnya bercahaya. Wajah penuh kasih yang mendambakan cahaya surga.
Mushalla Saelanul ‘Ilmi. Itulah nama tempat yang sedang aku tuju. Terasnya dipenuhi perempuan cantik berjilbab panjang hingga menutupi semua punggung mereka. Lantunan ayat suci Alquran berbunyi merdu dan sedikit terdengar, namun jelas tajwidnya. Muncullah aku di tengah-tengah mereka dengan perasaan nggak nyaman. Aku seperti seekor zebra di antara rombongan kijang di tanah lapang.
Dengan sepatu kets, celana panjang, baju kemeja kotak-kotak warna biru tua, jilbab seadanya yang hanya menutupi kepala hingga bahu. Lengkap sudah penampilan tomboy dengan pikulan ransel kesayanganku. Dan itulah penampilan terbaik yang aku suka.
“I love Me, inilah aku, Al” berkata dalam hati. Cuek. Aku berusaha mencari-cari wajah Kak Amanah. Aku belum terlalu menghafal wajahnya. Mungkin karena baru dua kali bertemu dengannya.  Yang jelas aku hanya ingat Kak Amanah punya lesung pipi di pipi kananya. “ahaa..! itu dia” hanya kelihatan pucat, mungkin karena kulitnya yang putih.
“assalamualaikum Kak.”
“wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh, Alisa! Apa kabar?”
“baik Kak, Al tidak terlambatji to, Kak!” senyum lebar tanda kemenangan.
“alhamdulillah Alisa tepat waktu hari ini, mari duduk” Kak Amanah menyilahkan aku duduk di sampingnya. Aku pun langsung menyalaminya. Aku agak terkejut tanganku nggak langsung dilepas, namun Kak Amanah merapatkan pipinya ke pipi kiri dan kananku. Heran aja. Aku tak biasa seperti ini. Tapi perasaanku sangat senang, tenang dan bahagia. Akhirnya ada juga yang sayang padaku. Padahal teman-teman di kelas hanya sebagian kecil aja yang mau bergaul denganku. “Malas pusing ah, mikirin mereka”.
“oya, Kak. Tadi malam Al ketiduran jadi tidak cepat balas smsnya Kakak”
“nggak apa-apa, yang jelas kan sekarang Alisa udah datang tepat waktu”
“nama kamu bagus Alisa, tapi mengapa kamu menyebut dirimu Al” Kak Amanah kembali bertanya.
“emm… begini Kak. Nama lengkapku kan Alisa Al Badra Paradinata. Tapi saya lebih suka pake nama pada kata ke dua yaitu Al, di samping lebih kren, huruf pertama dan kedua kata Alisa kan Al juga. Hehe…” aku puas dengan penjelasanku.
Mendengar itu Kak Amanah hanya menggeleng, “kamu kan perempuan, nama Al itu kedengarannya seperti laki-laki. Mau nggak kamu dikira laki-laki?”
“tidak to Kak”
“terus?”
“ummm…”
Teman-teman kelompok tarbiyah datang ketika aku sedang bingung. Hanya Kak Amanah yang menjawab salam mereka. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Kak Amanah mulai membuka majelis dan mengajak kami bersama-sama mengucapkan Basmalah. Setelah itu melanjutkan bacaan Quran minggu lalu. Aku bingung karena minggu lalu aku tak hadir. Untung aja aku urutan terakhir karena aku berada di samping kiri Kak Amanah. Ros mendapat giliran pertama membaca Alquran. Setelah itu Etin, lanjut Innah, kemudian Ade, Ita dan terakhir aku. Mulai deg-degan nih, bacaanku masih jelek, apalagi tajwidnya masih kacau. Dibanding dengan teman-teman lain mereka sudah lancar bahkan melagukan ayat Alquran. Dengan perjuangan keras aku pun bisa sampai pada huruf ‘ain di tepi Alquran. Tanda bacaan sudah selesai. Lega.
 “oke, kita lanjut pada materi. Tapi sebelumnya Kakak mau bercerita tentang pengalaman seorang Akhwat. Kalian tahu apa itu Akhwat?” Kak Amanah melempar pertannyaan itu pada kami semua.
Serentak kami menjawab, “tidak tahu Kak!”
“Awat?” dalam hati aku bertanya-tanya, “Kak Amanah kenal Kak Awat dari mana? kapan ketemunya? Kak Awat nda pernah juga cerita-cerita sama Al kalau dia kenal Kak Amanah lebih dulu?”,” ahh.. pikiranku ada-ada saja, mungkin saja orang lain, Awat kan bukan nama satu-satunya yang dimiliki kakakku” menyesali diri sendiri.
“Akhwat itu adalah sebutan untuk seorang perempuan. Dan kalian adalah salah satu akhwat”
“Ooo…” sambil melongo
“ternyata bukan Awat tapi A K H W A T” sambil mengeja dalam hati. Aku menertawai diriku sendiri… kelihatan dari wajahku yang senyam-senyum.
“Alisa mengapa tersenyum?”
“tidak Kak, Al hanya lucu saja, saya ternyata juga termasuk Akhwat” agak kaku aku menjawab.
“Oke. Kakak lanjut yah ceritanya”.
Ada seorang akhwat yang sangat amanah. Dia selalu semangat dan ceria. Tak ada kesedihan sedikit pun terlihat di wajahnya. Ketika ia disakiti, ia hanya senyum dan bersabar. Semua masalah dianggapnya tantangan. Dan hari-harinya pun sangat dinikmatinya, hanya saja terkadang ia menghilang. Tak seorang pun yang tahu. Satu minggu, dua minggi bahkan sebulan. Ia tak pernah muncul di majelis atau pun kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh LDK di kampus.
Tiba-tiba ia kembali muncul. Teman-teman selalu heran melihatnya.
“apa kabar Ukhti? Kemana aja, handphone nggak aktif. Ada apa sih, Anti selalu saja tiba-tiba menghilang tanpa kita tahu kemana” teman-teman merasa khawatir.
“alhamdulillah baik, nggak ada apa-apa kok Ukh… hanya ada acara keluarga di luar kota, jadi nggak bisa dihubungi karena jaringan telpon belum ada di sana.” Dengan lembut ia meyakinkan teman-temannya.
Namun setelah kedatangannya, ia kembali aktif seperti biasa. Bahkan lebih giat lagi mengurus kegiatan. Sebelum ia menjadi akhwat yang aktif dan sangat luar biasa, seperti yang teman-teman akui. Ia pernah punya lembaran kusut di awal-awal kehidupannya. Dia mirip Alisa.
Semua teman-teman menggeser arah matanya kepadaku. Aku tersenyum kecut.
“Haaa seperti Al, Kak?” heran,kaget dan agak kecewa.
“tidak Alisa, Kakak hanya bercanda”, Kak Amanah melanjutkan “ia juga seperti Alisa yang ingin kelihatan kren. Bahkan ia lebih tomboy lagi”.
Hatiku lega,”ternyata ada juga Akwat macam diriku ini, hehehe..”
Kak Amanah kembali melanjutkan ceritanya.
Waktu kecil dia selalu main bersama laki-laki. Lapangan terlihat aneh dengan satu-satunya pemain bola denga kostum bawahannya rok dan berambut panjang. Itulah dia. Karena terlihat aneh dan mulai diejek oleh teman laki-laki. Akhirnya kakaknya menyuruhnya untuk pulang. Ia pun pulang dengan linangan air mata. Di rumah ia berkata pada ibunya, ia takan pernah lagi memakai rok sampai kapanpun, karena gara-gara itulah ia tidak diizinkan bermain bola lagi. Rambutnya yang panjang dipotong pendek.
Begitulah seterusnya. Hingga SMA ia masih berteman dengan anak laki-laki. Setiap mereka berkumpul di lapangan atau jalan pulang bersama-sama. Ialah yang paling gagah,,kelihatan ganteng. Namun karena ia adalah perempuan ia masih tetap terlihat cantik.
Tibalah saatnya untuk kuliah. Ia memilih kuliah di Unhalu jurusan Bahasa Indonesia. Karena ia menyukai drama sehingga ia memilih jurusan itu. Namun seiring berjalannya waktu, ia datang kuliah dengan penampilan yang beda.
“Hei… kau kah itu?” Agung sahabatnya memegang jilbabnya rada mengejek.
“iya, ini Aku, memang siapa lagi? ada yang salah?” sewot.
“nggak kok, tidak biasa aja aku melihatmu berubah drastis seperti ini. Tapi, jujur, kamu kelihatan cantik.”
“alah.. kamu aja yang kegenitan.” Sambil pergi meninggalkan Agung.
Mulai hari itu, ia kelihatan sedih dan pendiam. Semua teman-teman tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Akhirnya Indah, salah satu teman kelasnya mengajaknya untuk shalat bersama di mushalla. Ia mulai bisa diajak bicara setelah selama ini mogok bicara. Ia merasa nyaman dengan Indah. Kemudian Indah mengajaknya untuk ikut tarbiyah tiap pekan. Dan akhirnya keceriaan di wajahnya kembali muncul berkat Indah. Meskipun Indah tidak tahu persis apa masalah yang dialaminya, tetapi Indah sudah senang melihat keceriaan dengan penampilannya yang sudah berbeda dari sebelumnya.
Ia kelihatan sangat cantik. Rok yang dijanjikan tak akan pernah ia kenakan lagi, sekarang sudah menghiasi tubuh bagian bawahnya. Jilbab panjang terurungkan hingga terlipat saat ia duduk. Banyak yang menyayanginya dan juga mencintainya. Tetapi ia hanya tersenyum ketika ada yang berniat melamarnya. Bahkan Agung yang dulunya adalah sahabatnya dan juga pernah mengejek jilbabnya. Kini segan terhadapnya.
“Ana. Itulah sapaan akrab buat akhwat yang kakak ceritakan barusan.” Kak Amanah menyudahi ceritanya.
Teman-teman masih terkesima mendengar cerita Kak Amanah. Skemata mereka menggambarkan seorang akhwat yang cantik dan luar biasa. Namun aku penasaran ingin melihat langsung dan bertemu dengan akhwat yang bernama Kak Ana. Aku pun memecah hayalan teman-teman.” Kak Ana sekarang dimanami? Masih aktif di sini ji to? Atau mungkin masih sibuk urus kegiatan?” beberapa pertanyaan keluar dari mulutku, penasaran.
Kak Amanah kelihatan semakin putih tapi pucat, kelelahan setelah bercerita. Dia menarik nafas panjang.“Kak Ana mulai hari ini tidak akan muncul lagi di sini bersama-sama kita”, berhenti sejenak, “ia akan pergi jauh dan untuk selama-lamanya” Kak Amanah kelihatan sedih matanya berkaca-kaca.
“Kak Ana mau kemana Kak? Kita juga ikut sedih, padahal Al juga ingin sekali bertemu dengan Kak Ana.”
Kak Amanah memegang bahuku, “kalian pasti akan ketemu dengan Kak Ana”. Sambil memperbaiki buku-bukunya, “hari ini kita tidak perlu membahas materi, cerita Kakak tadi sudah mewakili materi kita hari ini, dan semoga bisa menjadi pelajaran buat kalian semua juga buat Kakak, oke.” Dia tersenyum manis sekali, lesung pipinya kembali menghiasi wajahnya.
Tarbiyah pun hari ini telah selesai. Waktu tak terasa sudah hampir jam sepuluh. Sekarang waktunya pulang. Tapi aku lupa titip salam buat Kak Ana lewat Kak Amanah, tapi Kak Amanah sudah hampir hilang di balik tembok perpustakaan. Tinggal punggungnya saja yang kelihatan. Tiba-tiba saja timbul rasa rindu kepada Kak Amanah, aku ingin berlari untuk memeluk punggung itu, tapi tembok perpus mengurungkan niatku. Aku tak mau menghambat perjalannya untuk pulang.
“kan masih ada ji minggu depan, sa mau datang deh lebih awal biar lebih banyak cerita dengan Kak Amanah, Al sayang Kak Amanah dan sa ingin ketemu dengan Kak Ana.” Aku pulang dengan hati riang. Anganku mengatakan aku akan menjadi seorang Akhwat dan dipanggil Ukhti, disapa Anti. Seperti Kak Amanah dan Kak Ana.
***
Kali ini aku datang diantar sama Kak Awat naik motor. Biar datangnya lebih awal. Dengan pakaian yang sedikitnya hampir sama dengan penampilan Kak Amanah, tapi masih kalah cantik dengan dia. Di perjalanan aku ceritakan tentang Kak Amanah kepada Kak Awat. Kakak hanya merespon sedikit. Dalam hati aku ingin Kak Awat menikah dengan Kak Amanah.
Aku tiba di mushalla, namun Kak Amanah tidak kelihatan. Yang ada hanya kakak yang tak kukenal. Aku langsung menghampirinya.
“Kak Amanah di mana?”
“Alisa kan?” agak ragu,” aku Indah temannya Kak Ana” memperkenalkan diri sambil menyilahkan aku duduk.
“oh kakak inimi kah temannya Kak Ana, Al titip salam nah buat dia kalau nanti Kakak ketemu dengan Dia” aku jadi semangat. “tapi Kak Amanah sekarang di mana, Al ingin ketemu dengan Dia” desakku kembali.
“emmhh… sabar yah ukhti” Kak Indah kelihatan menangis, dia pun memelukku, aku merasa heran. Di dalam pelukannya aku bertanya, “ada apa Kak? Kak Amanah da tidak apa-apa ji to!” aku menjadi khawatir.
Kak Indah menyeka air matanya dan mulai menjelaskan tentang Kak Amanah. Dua hari yang lalu Kak Amanah meninggal dunia. Dia terserang kanker otak sejak masuk kuliah. Mulai saat itu dia memakai jilbab untuk menutupi rambutnya yang semakin hari semakin gugur, akhirnya dia kehilangan mahkota terindah yang dipunyai oleh setiap wanita. Selama ini dia menyembunyikan penyakit yang dideritanya kepada kami semua. Dia berusaha meyakinkan bahwa dia tetap sehat, semangat dan tak jarang dia selalu membuat kami tertawa. Namun seperti itulah dia. Ingin menjadi akhwat sejati yang tetap amanah meskipun masalah besar menimpanya.
Aku tak dapat membendung air mataku. Isak tangis pun meledak, “ternyata Kak Ana itu adalah Kak Amanah”.
separador

0 komentar:

Posting Komentar

Followers