Bismillah…
Dik, jagn lupa bsok
jam 8 kita mlai tarbiyah. Ok
Kk tggu yah di mushalla. Smga ttp SEMANGAT…!
Lama aku melihat layar handphone-ku hingga kelihatan mulai
redup karena sudah berapa detik tak satu pun tombol yang kutekan. Kembali
kurebahkan tubuhku di atas kasur setelah terbangun dari bunyi sms masuk.
Tak ada niat untuk membalas.
Yang ada di benakku, aku hanya ingin tidur dan melanjutkan mimpiku.
Hening. Tanda dini hari
mulai tiba. Namun hatiku tak mau mengikuti nafsu tidurku. Mulai kepikiran
dengan sms yang baru saja mengganggu
mimpiku.
“Hummmm…!”
Dengan nafas panjang
aku beranjak ke meja belajar. Di sana tetap dengan posisi semula, novel Rumah
Kaca masih terbuka. Dengan pembatas buku pemberian senior yang bertuliskan ‘bahagiakan
diri dengan satu istri’. Bibir kiriku hanya terangkat sedikit. Tepat pada
halaman 357, aku hanya sekilas membaca salah satu paragraph yang menarik
perhatianku. Bunyinya seperti ini!
Tidak seperti pada umumnya tulisan Pribumi, apalagi
tulisan orang-orang Jawa, tulisannya tidak punya kompleks, maka tentu ia tak
punya cacat badan ataupun jiwa. Boleh jadi cantik dan lembut. Sejak kecil
dibuai oleh kasih-sayang orangtua dan lingkungan hidup yang mungkin membikin ia
tidak punya kompleks macam-macam.
Aku ingin melanjutkan
bacaan itu namun jam weker di meja belajarku sudah menunjuk pukul 01.47. Segera
kututup novel karya Pramoedya itu dan kembali ke tempat tidur. Malam semakin
dingin, mata tak juga mau terpejam. Kutarik handphone-ku
yang tadi kusimpan di bawah bantal. Tampilannya masih tetap, sms dari Kak Amanah. Kucoba untuk
mencari tahu sejak kapan Kak Amanah mengirim sms dan ternyata sejak jam tujuh
lewat. Kira-kira setelah shalat isya. Karena seperti biasa sms Kak Amanah
muncul sekitaran jam itu.
“astaga…,sa belum
shalat isya”.
Aku baru sadar ternyata aku tidur sejak jam
setengah tujuh.
“aduh, bagimanami, Shalat nda yah?”
“tapi sekarang kan
sudah hampirmi jam dua!” aku menyesali diriku sendiri.
Aku langsung mengetik
sms buat Kak Amanah. Dan aku sangat senang dan lega setelah menerima balasan
dan penjelasan dari Kak Amanah. Dia menyarankan lansung saja ambil air wudhu
dan niatkan shalat isya kemudian lanjutkan dengan sahalat tahajud dan
dilengkapi dengan hadist-hadist pendukungnya. Dan ternyata saat itu Kak Amanah
sedang baca Quran setelah melaksanakan shalat tahajud.
Akupun tidur kembali
setelah meng-sms Kak Amanah, aku siap
untuk datang tarbiyah tepat pada waktu yang telah disepakati.
***
“Ma, Al mau pergimi
dulu nah.”
“ Ada angin apa di’
sepagi ini kamu buru-buru ke kampus” melihat tingkahku Mama heran.
“Alisa sarapan dulu,
ini sudah hampir selesai” tegasnya.
“Mo terlambatmi Ma,
nanti saja, Al juga cepat pulangji hari ini”
“Hmmn, terserahmi kamu
yang penting Mama tidak mau dengar lagi kamu mengeluh sakit.”
“Oke Bos” sambil
mencium punggung tangan mama aku pun beranjak pergi, ”assalamualaikum”.
Sambil tersenyum mama
menjawab salamku, “walaikumsalam”.
Aku hanya tersenyum
lega. Pagi yang cerah. Aku tepat di bawah cakrawala membiru diwarnai awanan
lembut. Sepanjang jalan kampus hijauku diiringi kicauan burung-burung, seakan
menggodaku untuk menyempatkan waktu bermain dengan mereka. Sayang aku tak paham
apa maksud parole yang kalian bunyikan. Sinar mentari pun sedikit mengintip di
sela daun-daun jati di pinggir jalan. Rupanya alam tahu isi hatiku pagi ini.
“iya, Al sedang bahagia
hari ini” kataku sedikit berbisik di tengah kabut yang mulai lesap.
Bersama kerianganku,
sampailah aku di hadapan sebuah benda besar berbentuk kubus putih. Bersih.
Kelihatan tenang. Di atas kubus itu ada lagi sebuah limas segi empat berwarna
hijau. Mengingatkan aku pada pelajaran matematika di SD tentang bangun ruang.
Sangat rapi. Begitu pula orang-orang yang ada di dalamnya semuanya tampak
senang dan wajahnya bercahaya. Wajah penuh kasih yang mendambakan cahaya surga.
Mushalla Saelanul
‘Ilmi. Itulah nama tempat yang sedang aku tuju. Terasnya dipenuhi perempuan
cantik berjilbab panjang hingga menutupi semua punggung mereka. Lantunan ayat
suci Alquran berbunyi merdu dan sedikit terdengar, namun jelas tajwidnya.
Muncullah aku di tengah-tengah mereka dengan perasaan nggak nyaman. Aku seperti
seekor zebra di antara rombongan kijang di tanah lapang.
Dengan sepatu kets,
celana panjang, baju kemeja kotak-kotak warna biru tua, jilbab seadanya yang
hanya menutupi kepala hingga bahu. Lengkap sudah penampilan tomboy dengan pikulan ransel
kesayanganku. Dan itulah penampilan terbaik yang aku suka.
“I love Me, inilah aku,
Al” berkata dalam hati. Cuek. Aku berusaha mencari-cari wajah Kak Amanah. Aku
belum terlalu menghafal wajahnya. Mungkin karena baru dua kali bertemu
dengannya. Yang jelas aku hanya ingat
Kak Amanah punya lesung pipi di pipi kananya. “ahaa..! itu dia” hanya kelihatan
pucat, mungkin karena kulitnya yang putih.
“assalamualaikum Kak.”
“wa’alaikumussalam
warahmatullahi wabarakaatuh, Alisa! Apa kabar?”
“baik Kak, Al tidak
terlambatji to, Kak!” senyum lebar tanda kemenangan.
“alhamdulillah Alisa
tepat waktu hari ini, mari duduk” Kak Amanah menyilahkan aku duduk di
sampingnya. Aku pun langsung menyalaminya. Aku agak terkejut tanganku nggak
langsung dilepas, namun Kak Amanah merapatkan pipinya ke pipi kiri dan kananku.
Heran aja. Aku tak biasa seperti ini. Tapi perasaanku sangat senang, tenang dan
bahagia. Akhirnya ada juga yang sayang padaku. Padahal teman-teman di kelas
hanya sebagian kecil aja yang mau bergaul denganku. “Malas pusing ah, mikirin
mereka”.
“oya, Kak. Tadi malam
Al ketiduran jadi tidak cepat balas smsnya Kakak”
“nggak apa-apa, yang
jelas kan sekarang Alisa udah datang tepat waktu”
“nama kamu bagus Alisa,
tapi mengapa kamu menyebut dirimu Al” Kak Amanah kembali bertanya.
“emm… begini Kak. Nama
lengkapku kan Alisa Al Badra Paradinata. Tapi saya lebih suka pake nama pada
kata ke dua yaitu Al, di samping lebih kren, huruf pertama dan kedua kata Alisa
kan Al juga. Hehe…” aku puas dengan penjelasanku.
Mendengar itu Kak
Amanah hanya menggeleng, “kamu kan perempuan, nama Al itu kedengarannya seperti
laki-laki. Mau nggak kamu dikira laki-laki?”
“tidak to Kak”
“terus?”
“ummm…”
Teman-teman kelompok
tarbiyah datang ketika aku sedang bingung. Hanya Kak Amanah yang menjawab salam
mereka. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Kak Amanah mulai
membuka majelis dan mengajak kami bersama-sama mengucapkan Basmalah. Setelah
itu melanjutkan bacaan Quran minggu lalu. Aku bingung karena minggu lalu aku
tak hadir. Untung aja aku urutan terakhir karena aku berada di samping kiri Kak
Amanah. Ros mendapat giliran pertama membaca Alquran. Setelah itu Etin, lanjut
Innah, kemudian Ade, Ita dan terakhir aku. Mulai deg-degan nih, bacaanku masih
jelek, apalagi tajwidnya masih kacau. Dibanding dengan teman-teman lain mereka
sudah lancar bahkan melagukan ayat Alquran. Dengan perjuangan keras aku pun
bisa sampai pada huruf ‘ain di tepi Alquran. Tanda bacaan sudah selesai. Lega.
“oke, kita lanjut pada materi. Tapi sebelumnya
Kakak mau bercerita tentang pengalaman seorang Akhwat. Kalian tahu apa itu
Akhwat?” Kak Amanah melempar pertannyaan itu pada kami semua.
Serentak kami menjawab,
“tidak tahu Kak!”
“Awat?” dalam hati aku
bertanya-tanya, “Kak Amanah kenal Kak Awat dari mana? kapan ketemunya? Kak Awat
nda pernah juga cerita-cerita sama Al kalau dia kenal Kak Amanah lebih dulu?”,”
ahh.. pikiranku ada-ada saja, mungkin saja orang lain, Awat kan bukan nama
satu-satunya yang dimiliki kakakku” menyesali diri sendiri.
“Akhwat itu adalah
sebutan untuk seorang perempuan. Dan kalian adalah salah satu akhwat”
“Ooo…” sambil melongo
“ternyata bukan Awat
tapi A K H W A T” sambil mengeja dalam hati. Aku menertawai diriku sendiri…
kelihatan dari wajahku yang senyam-senyum.
“Alisa mengapa
tersenyum?”
“tidak Kak, Al hanya
lucu saja, saya ternyata juga termasuk Akhwat” agak kaku aku menjawab.
“Oke. Kakak lanjut yah
ceritanya”.
Ada seorang akhwat yang
sangat amanah. Dia selalu semangat dan ceria. Tak ada kesedihan sedikit pun
terlihat di wajahnya. Ketika ia disakiti, ia hanya senyum dan bersabar. Semua
masalah dianggapnya tantangan. Dan hari-harinya pun sangat dinikmatinya, hanya
saja terkadang ia menghilang. Tak seorang pun yang tahu. Satu minggu, dua
minggi bahkan sebulan. Ia tak pernah muncul di majelis atau pun
kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh LDK di kampus.
Tiba-tiba ia kembali
muncul. Teman-teman selalu heran melihatnya.
“apa kabar Ukhti?
Kemana aja, handphone nggak aktif.
Ada apa sih, Anti selalu saja tiba-tiba menghilang tanpa kita tahu kemana”
teman-teman merasa khawatir.
“alhamdulillah baik,
nggak ada apa-apa kok Ukh… hanya ada acara keluarga di luar kota, jadi nggak
bisa dihubungi karena jaringan telpon belum ada di sana.” Dengan lembut ia
meyakinkan teman-temannya.
Namun setelah
kedatangannya, ia kembali aktif seperti biasa. Bahkan lebih giat lagi mengurus
kegiatan. Sebelum ia menjadi akhwat yang aktif dan sangat luar biasa, seperti
yang teman-teman akui. Ia pernah punya lembaran kusut di awal-awal
kehidupannya. Dia mirip Alisa.
Semua teman-teman
menggeser arah matanya kepadaku. Aku tersenyum kecut.
“Haaa seperti Al, Kak?”
heran,kaget dan agak kecewa.
“tidak Alisa, Kakak
hanya bercanda”, Kak Amanah melanjutkan “ia juga seperti Alisa yang ingin kelihatan kren. Bahkan ia lebih tomboy lagi”.
Hatiku lega,”ternyata
ada juga Akwat macam diriku ini, hehehe..”
Kak Amanah kembali
melanjutkan ceritanya.
Waktu kecil dia selalu
main bersama laki-laki. Lapangan terlihat aneh dengan satu-satunya pemain bola
denga kostum bawahannya rok dan berambut panjang. Itulah dia. Karena terlihat
aneh dan mulai diejek oleh teman laki-laki. Akhirnya kakaknya menyuruhnya untuk
pulang. Ia pun pulang dengan linangan air mata. Di rumah ia berkata pada
ibunya, ia takan pernah lagi memakai rok sampai kapanpun, karena gara-gara
itulah ia tidak diizinkan bermain bola lagi. Rambutnya yang panjang dipotong
pendek.
Begitulah seterusnya.
Hingga SMA ia masih berteman dengan anak laki-laki. Setiap mereka berkumpul di
lapangan atau jalan pulang bersama-sama. Ialah yang paling gagah,,kelihatan
ganteng. Namun karena ia adalah perempuan ia masih tetap terlihat cantik.
Tibalah saatnya untuk
kuliah. Ia memilih kuliah di Unhalu jurusan Bahasa Indonesia. Karena ia
menyukai drama sehingga ia memilih jurusan itu. Namun seiring berjalannya
waktu, ia datang kuliah dengan penampilan yang beda.
“Hei… kau kah itu?”
Agung sahabatnya memegang jilbabnya rada mengejek.
“iya, ini Aku, memang
siapa lagi? ada yang salah?” sewot.
“nggak kok, tidak biasa
aja aku melihatmu berubah drastis seperti ini. Tapi, jujur, kamu kelihatan
cantik.”
“alah.. kamu aja yang
kegenitan.” Sambil pergi meninggalkan Agung.
Mulai hari itu, ia
kelihatan sedih dan pendiam. Semua teman-teman tidak ada yang tahu apa
penyebabnya. Akhirnya Indah, salah satu teman kelasnya mengajaknya untuk shalat
bersama di mushalla. Ia mulai bisa diajak bicara setelah selama ini mogok
bicara. Ia merasa nyaman dengan Indah. Kemudian Indah mengajaknya untuk ikut
tarbiyah tiap pekan. Dan akhirnya keceriaan di wajahnya kembali muncul berkat
Indah. Meskipun Indah tidak tahu persis apa masalah yang dialaminya, tetapi
Indah sudah senang melihat keceriaan dengan penampilannya yang sudah berbeda
dari sebelumnya.
Ia kelihatan sangat
cantik. Rok yang dijanjikan tak akan pernah ia kenakan lagi, sekarang sudah
menghiasi tubuh bagian bawahnya. Jilbab panjang terurungkan hingga terlipat
saat ia duduk. Banyak yang menyayanginya dan juga mencintainya. Tetapi ia hanya
tersenyum ketika ada yang berniat melamarnya. Bahkan Agung yang dulunya adalah
sahabatnya dan juga pernah mengejek jilbabnya. Kini segan terhadapnya.
“Ana. Itulah sapaan
akrab buat akhwat yang kakak ceritakan barusan.” Kak Amanah menyudahi
ceritanya.
Teman-teman masih
terkesima mendengar cerita Kak Amanah. Skemata mereka menggambarkan seorang
akhwat yang cantik dan luar biasa. Namun aku penasaran ingin melihat langsung
dan bertemu dengan akhwat yang bernama Kak Ana. Aku pun memecah hayalan
teman-teman.” Kak Ana sekarang dimanami? Masih aktif di sini ji to? Atau
mungkin masih sibuk urus kegiatan?” beberapa pertanyaan keluar dari mulutku,
penasaran.
Kak Amanah kelihatan
semakin putih tapi pucat, kelelahan setelah bercerita. Dia menarik nafas
panjang.“Kak Ana mulai hari ini tidak akan muncul lagi di sini bersama-sama
kita”, berhenti sejenak, “ia akan pergi jauh dan untuk selama-lamanya” Kak
Amanah kelihatan sedih matanya berkaca-kaca.
“Kak Ana mau kemana Kak?
Kita juga ikut sedih, padahal Al juga ingin sekali bertemu dengan Kak Ana.”
Kak Amanah memegang
bahuku, “kalian pasti akan ketemu dengan Kak Ana”. Sambil memperbaiki
buku-bukunya, “hari ini kita tidak perlu membahas materi, cerita Kakak tadi
sudah mewakili materi kita hari ini, dan semoga bisa menjadi pelajaran buat
kalian semua juga buat Kakak, oke.” Dia tersenyum manis sekali, lesung pipinya
kembali menghiasi wajahnya.
Tarbiyah pun hari ini
telah selesai. Waktu tak terasa sudah hampir jam sepuluh. Sekarang waktunya
pulang. Tapi aku lupa titip salam buat Kak Ana lewat Kak Amanah, tapi Kak
Amanah sudah hampir hilang di balik tembok perpustakaan. Tinggal punggungnya
saja yang kelihatan. Tiba-tiba saja timbul rasa rindu kepada Kak Amanah, aku
ingin berlari untuk memeluk punggung itu, tapi tembok perpus mengurungkan
niatku. Aku tak mau menghambat perjalannya untuk pulang.
“kan masih ada ji
minggu depan, sa mau datang deh lebih awal biar lebih banyak cerita dengan Kak
Amanah, Al sayang Kak Amanah dan sa ingin ketemu dengan Kak Ana.” Aku pulang
dengan hati riang. Anganku mengatakan aku akan menjadi seorang Akhwat dan
dipanggil Ukhti, disapa Anti. Seperti Kak Amanah dan Kak Ana.
***
Kali ini aku datang
diantar sama Kak Awat naik motor. Biar datangnya lebih awal. Dengan pakaian
yang sedikitnya hampir sama dengan penampilan Kak Amanah, tapi masih kalah
cantik dengan dia. Di perjalanan aku ceritakan tentang Kak Amanah kepada Kak
Awat. Kakak hanya merespon sedikit. Dalam hati aku ingin Kak Awat menikah
dengan Kak Amanah.
Aku tiba di mushalla,
namun Kak Amanah tidak kelihatan. Yang ada hanya kakak yang tak kukenal. Aku
langsung menghampirinya.
“Kak Amanah di mana?”
“Alisa kan?” agak
ragu,” aku Indah temannya Kak Ana” memperkenalkan diri sambil menyilahkan aku
duduk.
“oh kakak inimi kah
temannya Kak Ana, Al titip salam nah buat dia kalau nanti Kakak ketemu dengan
Dia” aku jadi semangat. “tapi Kak Amanah sekarang di mana, Al ingin ketemu
dengan Dia” desakku kembali.
“emmhh… sabar yah
ukhti” Kak Indah kelihatan menangis, dia pun memelukku, aku merasa heran. Di
dalam pelukannya aku bertanya, “ada apa Kak? Kak Amanah da tidak apa-apa ji
to!” aku menjadi khawatir.
Kak Indah menyeka air
matanya dan mulai menjelaskan tentang Kak Amanah. Dua hari yang lalu Kak Amanah
meninggal dunia. Dia terserang kanker otak sejak masuk kuliah. Mulai saat itu
dia memakai jilbab untuk menutupi rambutnya yang semakin hari semakin gugur,
akhirnya dia kehilangan mahkota terindah yang dipunyai oleh setiap wanita.
Selama ini dia menyembunyikan penyakit yang dideritanya kepada kami semua. Dia
berusaha meyakinkan bahwa dia tetap sehat, semangat dan tak jarang dia selalu
membuat kami tertawa. Namun seperti itulah dia. Ingin menjadi akhwat sejati
yang tetap amanah meskipun masalah besar menimpanya.
Aku tak dapat
membendung air mataku. Isak tangis pun meledak, “ternyata Kak Ana itu adalah
Kak Amanah”.




0 komentar:
Posting Komentar