Sudah
satu jam lewat 57 menit aku menjadi orang yang ingkar janji. Janji yang sejak 5
tahun yang lalu aku nantikan bisa menjadi kenyataan namun kini aku sendiri yang
membuatnya berantakan. Angin meniupku. Membawa imajinasi yang kini menjadi
kegemaranku tiap kali mendapat momen. Angin masih saja meniupku hingga jauh.
Jauh sekali. Sampai kudapati tempat yang kubuat sendiri dalam hayalanku.
Masuk
di jam ke dua hari ini, Rabu 17 November 2014. Alhamdulillah aku masih bisa
mengingat tanggal. Mungkin karena kebiasaan. Sejak mengikrarkan janji aku
menjadi orang yang suka mengeja hari, melafalkan tanggal, menunggu bulan, dan
merindukan tahun. Jadi aku tidak akan lupa hari ini. Hawa dini hari kian
melahap kulitku yang tidak sempat tertutup kain. Kubiarkan saja dia pucat
bersama bunyi-bunyi gelap yang sebentar lagi habis direbut fajar. Aku hanya
peduli dengan hari di dua jam yang lalu. Aku takut jika angin akan semakin
keras meniupku jauh meninggalkan hari itu.
Guliran
roda tandu mengikuti irama pikiranku yang gelisah. Menyusuri troroar yang
begitu sepi dan gugup menyambut kedatanganku. Aku tahu mereka heran mengapa aku
di sini. Seharusnya aku sudah di tempat itu. Tapi aku mencoba membisiki mereka,
“aku tidak bisa menepati janjiku” sambil berlalu sempat terlihat siluet wajah
mereka yang sendu menangisi ceritaku. Akhirnya mataku lelah dan melupakan
diriku.
Aku
kini menjadi pelupa. Sudah tidak lagi mengeja hari apalagi merindukan tahun.
Karena waktu untuk menanti sudah terhenti beberapa jam yang lalu. Aku pun tak
tahu mengapa aku harus di tempat ini. Sejak kapan aku di sini. Yang kuingat
hanya suara-suara manusia yang selama ini tak pernah meninggalkanku, selalu
menutupi kesedihanku dan tak pernah mengabaikan diriku untuk dicintai dan
disuapi kasih sayang. Semakin larut aku di duniaku sendiri yang tak dapat
kulihat secara pasti.
bersambung.....




0 komentar:
Posting Komentar