Anda telah masuk di zona Wonua Wulele Sanggula

Pages

Assalamualaikum Banggona Anawai

Selamat Datang di Wonua Sanggula..@_^
Diberdayakan oleh Blogger.

My Big Family

My Big Family
Yanti, Leli, Mama, Aku dan Nur

Mengenai Saya

Foto saya
Universitas Haluoleo adalah kampus di mana Dia Kuliah. Sejak kelulusannya di SMA N 1 Lainea tepatnya di Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara pada tahun 2008, dia langsung melanjutkan perguruan tingginya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yaitu di jurusan Bahasa dan Seni. Pasnya di Program Studi pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Daerah. Sejak duduk di bangku SMP yaitu SMP N 1 Lainea pada tahu 2002 dia sudah hobi menulis cerpen dan puisi. Menjadi anak bungsu dari lima bersaudara ini tidak terlihat begitu manja seperti anak-anak bungsu lainnya. Ini bisa terlihat dari keaktifan dan kesungguhannya mengurus beberapa organisasi antara lain menjadi pengurus Lingkar Studi Ilmiah Penalaran (LSIP), Semai Intelektual Muda Konawe Selatan (SIM Konsel), UKKI, Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, dan organisasi eksternal kampus lainnya. Dia sangat hobi jalan-jalan mendatangi tempat yang belum pernah dikenalnya. Dan dia sedang berencana dengan sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat yang sangat diimpikannya sejak 2009. Masih rahasia.. hehe.. selamat membaca Blog Putri Anawaingguluri.

Kamis, 12 April 2012

SEPEDA KUMBANG BUAT NEGERIKU



“Ughh…!”
Bunyi itu yang hanya bisa keluar dari mulutku sembari menekan tombol TV dan mencabut paksa colokan. Dadaku bertalu-talu, ingin sekali memarahi, memaki dan memberontak. Tapi semua nafsu itu sia-sia. Tak ada orang yang bisa memacu kekesalanku. Jadilah aku raja hutan yang tersesat di negeri tanpa tuan. Sunyi. Bahkan paduan suara kodok yang tiap malam memenuhi dunia malam tak terdengar lagi. Aku tak tahu pasti apakah malam ini mereka absen latihan atau mungkin mereka juga sama denganku. Kecewa.
Kurebahkan punggungku di atas kasur. Hatiku merayu agar otak ini bisa tenang dan lupa akan apa yang kutonton di layar TV. Namun gelisah tak mau lari dari pikiran. Penasaran, oh sangat memilukan untuk dirasakan. Mataku tak mau berpaling dari layar TV yang begitu gelap, seakan bayang wajahku yang ada di dalam sana tertawa riang melihat aslinya sedang jengkel.
Aku berusaha mencari-cari alasan untuk tidak menghidupkan kembali televisi. Tiba-tiba group band kotak menyanyikan lagu Tendangan dari Langit lewat nada pesan di handphone-ku.

“Mnurtmu???”
Ternyata sms dari Yono. Dengan tarikan nafas yang sangat dalam aku mengetik huruf demi huruf.
 “Mnding tdur drpda mkan hti, sdh klah juga.”
Tapi telunjukku tetap kalah dari saraf otakku yang tadinya tak mau lagi melanjutkan nonton pertandingan itu. Berharap ada angin segar setelah beberapa menit yang lalu kulewatkan. Akhirnya TV itu terang lagi. Alhasil gambar yang aku lihat semakin kacau. Tepat di menit 75 babak ke dua pertandingan sepak bola itu dihentikan. Supporter dari negeriku sendiri tidak sportif. Tak ada tawar menawar lagi antara hati dan otakku, kumatikan TV dan langsung tidur membawa hatiku yang semakin jengkel.
Aku ingin bermimpi yang indah-indah. Menyanyikan lagu garuda di dadaku dan melihat pasukan merah putih memegang piala dunia. Kemudian teriakan-teriakan dari para supporter yang tak tahu lagi dengan cara apa mereka meluapkan kegembiraan. Air mata pun tak dapat dibendung karena bahagia dalam hati mereka tak dapat tersimpan lagi. Oh senangnya. Ya, aku sedang bermimpi dan sesungguhnya itulah mimpiku.
Tapi, sepertinya ini bukan mimpi. Iya ini bukan mimpi. Teriakan itu masih terdengar. Alhamdulillah ya, ternyata ini kenyataan. Mungkin aku sedang ketiduran di kursi stadion.
“aaaaahh… cepat, cepat,, masuk.”
“ Tidak ada yang boleh keluar kamar….”
Aku terbangun dan melihat setiap sudut kamar. Ini bukan stadion, tapi ini kamarku. Ternyata ini memang mimpi. Tapi mengapa di luar ada suara teriakan, rebut-ribut seperti ada perampokan. Tidak jelas. Aku mencoba memasang telinga baik-baik untuk memastikan di luar ada kejadian apa. Namun terdengar sayup-sayup dari kejauhan, semacam imbauan dan gertakan dari seorang laki-laki.
“Mana yang lain? ……”
“hiks.hiks.hiks…. takut!”
“Jangan pulang dulu! Di kampus sedang kacau.”
Aku menarik kesimpulan, lingkungan kampus kacau lagi. Seperti kata bang Haji Roma Irama, masa muda adalah masa yang berapi-api. Tapi yang ini apinya lain lagi. Bukan api biasa melainkan api yang mematikan persaudaraan dan membunuh citra akademisi yang katanya berjiwa intelek, dan menjunjung tinggi almamater.
Perilaku binatang rimba yang sudah membudaya di sebagian kecil masyarakat kampusku yang kubanggakan. Entahlah, citra buruk diekspos besar-besaran namun kegiatan lain yang besar dan bermanfaat, jangankan masuk TV, jadi bahan gosip ibu-ibu rumah tangga saja tidak laku. Lanjutkan mimpiku ahh…

***

Kenalkan, namaku Agus Subagio dan teman di samping saya adalah Mulyono. Kedatangan kami ke desa ini dalam rangka melaksanakan studi lapagan yang biasa disebut Kuliah Kerja Profesi. Kami semua berjumlah 12 orang, namun terbagi menjadi 2 orang tiap desa. Insya Allah kami di sini selama 2 bulan. Jadi, kami meminta izin kepada bapak-bapak semua agar berkenan menerima kami di desa ini. Terimakasih pula kepada kepala Desa Punggaluku yang telah membantu kami dalam segala urusan sehingga kami bisa ditempatkan di desa ini untuk melaksanakan KKP.
Menit-menit yang begitu menegangkan, seumur-umur baru kali ini aku berbicara di depan banyak orang. Terlebih lagi di depan para aparat desa. Si Yono juga tidak bisa diharapkan. Tapi, merekakan semua pendidikannya di bawah rata-rata. Buat apa juga malu. Aahhh… lega..! yang penting sudah dapat izin dari kepala desa, terserah deh aku mau buat apa. Lagian juga, aku bisa bayar mereka jika seandainya penilaian ataupun kinerja kita tidak dinilai bagus. Hummm,, beruntung juga papaku jadi  pengusaha, apapun yang kuinginkan, tinggal bilang. Tahu beres. Dalam hati aku tertawa puas, dasar orang kampung.
Hari ini adalah hari pertama kami berada di tempat yang jauh, jauh dan sangat jauh dari kota. Suara mobil tidak terdengar sama sekali, jangankan mobil jalan beraspal saja tidak ada. Beruntung tadi kami dijemput oleh ketua RT jadi bisa tahu jalan. Sekitar 10 kilo kami berjalan memasuki perkebunan jambu mente memakai ojek sepeda. Kemudian di ujung jalan berhenti. Kami kra sudah sampai. Tapi di sekitar sini tidak ada perumahan warga. Sambungan jalan tak tahu di mana. Bersuara Si Yono yang sudah duluan turun dari sepeda.
“kita mau ke mana nih Pak? Inikan jalan buntu, jangan bilang Pak kalau kita mau terjun ke sungai.”
“ini bukan jalan buntu, tapi kita harus menyeberangi kali ini” pak RT langsung menuju jalan turun ke sungai itu.
Aku mengikutinya dari belakang, begitu pula Yono. “Ooo…” bibir Yono membulat. Ternyata di bawah sana ada rakit. Wah asik dong, akhirnya aku juga bisa merasakan naik rakit. Air sungai ini sangat jernih dan pemandngan di sini sangat indah. Semuanya masih alami, pohon-pohon besar yang mungkin tiga orang yang dapat memeluknya menjulang gagah di seberang sana. Bunyi air mengalir. Udara yang begitu sejuk masuk di paru-paruku yang sudah tercemar polusi kota. Sambil menggerakkan rakit menuju tepi sungai pak RT menjelaskan tentang sungai yang sedang kami seberangi.
Kali ini dulunya bernama kali Ambesea sesuai dengan nama kampung sebelah tempat kali ini bermuara. Namun setelah kelurga Mr. Harari meninggal akibat terbawa arus kali ini, maka kali ini diubah menjadi kali Harari. Mendengar itu bulu kudukku berdiri spontan tanpa kompromi. Yono hanya bisa mendekat dan memegang bahuku, dasar penakut. Menyembunyikan kelemahanku. Pak RT kembali melanjutkan cerita setelah kami sampai di tepi sungai. Dulu di desa Ambesea itu terdapat pabrik kapas yang sangat besar namanya PT. Kapas Indah Indonesia, orang amerika yang dirikan. Dan Mr. Harari ini adalah kepala kendaraan di pabrik itu. Saat mereka ingin berlibur di kota Mr. Harari dan keluarganya naik mobil dan menyeberagi kali ini yang saat itu airnya sedang surut. Tapi di pertengan kali, tiba-tiba banjir datang dan langsung membawa mobil Mr. Harari. Sehingga mobil itu berguling-guling mengikuti kemana saja arus kali itu pergi. Sekitar dua hari baru mayat mereka semua ditemukan.
“oh begitu yah pak, tragis juga ceritanya kali ini”
“ah,, bilang saja kalau kamu takut” cetusku.
“nah, kita sudah sampai, Dek.” Pak RT memotong pembicaraan kami.
Jika mengingat perjalanan tadi aku jadi merinding. Desa sekecil ini punya cerita misteri juga. Hummm…
Hari sudah mulai gelap, tapi tidak ada satu pun yang mau menyalakan lampu. Tiba-tiba Yono teriak.
“aduh… kurang ajar nih pintu!”
“makanya itu mata digunakan sesuai fungsinya, jangan di simpan di lutut”
“kamu itu bukannya menyalkan lampu malah mengejek” Yono kesal.
Aku mencari-cari saklar lampu ataupun colokan, tapi tidak ketemu. Aku mencoba melihat mungkin saja ada kabel-kabel yang menjalar di sekitar dinding rumah ini, tapi kok tidak kelihatan. Tanya saja deh sama ina-ina pemilik rumah ini. Tiba-tiba saja Ina datang dengan sebuah cahaya yang keluar dari pipet besi yang lumayan yang menancap di blek susu yang kemasannya sudah kusam bahkan merknya sudah tak terbaca lagi.
“Nak, ini lampunya, kalau hari sudah semakin gelap jangan lupa lomba-lomba ditutup” sambil menunjuk jendela di belakangku, suara Ina sangat lembut dan cara bicaranya sangat berhati-hati, “setelah mahgrib baru kita makan malam”. Ina meninggalkan kami dalam keadaan bingung. Antara percaya dan tidak, di sini tidak ada listrik. Mungkin Ina tidak sanggup untuk memasukkan listrik di rumahnya. Yono tinggal mengulang-ngulang kata lomba-lomba sambil menggaruk kepalanya.
“eh Yon daripada kamu jadi gila karena lomba-lomba lebih baik kamu tutup itu jendela. Tenang saja kalau handphone sam laptop kita lawbet, bbesok kita ke rumah pak RT atau pak Kades saja.” Menghibur Yono yang seakan tidak bisa menerima kenyataan.
“hummm.. baiklah” Yono hanya bisa menarik napas panjang.
Setelah mahgrib Ina menyiapkan kami makan malam. Oh Ina, engkau begitu baik pada kami. Dengan makanan sederhana kami makan begitu lahap, tak banyak protes karena ini rumah Ina bukan rumah mama. Jadi harus mengerti. Tiba-tiba Yono bertanya.
“Ina, di sini tinggal sendiri? Kok sepi.”
“anak-anak dan cucu saya semuanya merantau, sesekali pulang lebaran kalau ada waktu. Ama sudah lama meninggal.”
Serentak aku dan Yono, “Ooo…” aku menyambung, “Ama itu anaknya Ina yah?”
“Ama adalah suami saya”
“maaf yah Ina, kami tidak tahu”
“tidak apa-apa, Nak.”
“Setelah makan kita jalan-jalan ke rumah-rumah penduduk yah Gus.” Ajak Yono, mengalihkan pembicaraan.
“hati-hati jalan malam, di sini gelap jadi biar terang bawa obor” Ina langsung menyerbu padahal aku baru saja mau mengiyakan. Tapi sepertinya ada yang mengganjal.
“apa tidak ada lampu jalan?” tanyaku cepat.
“di desa kita belum masuk listrik”
“hahhh..!” kami serentak. Yono sampai tersedak dan cepat-cepat Ina member air minum.
“hati-hati, Nak. Di sini tidak bisa masuk listrik, di samping tempatnya jauh, pemerintah juga tidak sanggup untuk mengurus itu, jadi sabar saja.”
“e..e..eiya Ina” Yono gugup.
Aku mengurut-urut leher Yono, namun dalam hati aku sepertinya akan gila tinggal di desa ini. Belum lagi kita di sini selam dua bulan. Oh tuhan, aku akan rindu facebook, twitter, Blog, game, terlebih lagi ga pake handphone selama sebulan. Hummm… Gus, Yon selamat yah masuk di wilayah pedalaman tanpa listrik, internet, hiburan… hiks.hiks.hiks..
“Ina,Ina.. I Siti keto peana, leumbo deela sakoi’i” Tiba-tiba saja datang seorang bapak memanggil-manggil Ina. Ina tidak berkata apa-apa, dia langsung menyalakan obor lalu keluar mengikuti bapak itu. Kami pun juga lansung mengikut saja tanpa tahu apa yang sedang terjadi, yang jelas ada masalah penting yang harus diselesaikan dan hanya Ina yang dipercaya untuk itu.
Setelah tiba di rumah bapak itu. Kami menunjumpai seorang ibu yang sedang merintih kesakitan, ternyata ibu itu akan melahirkan dan Ina adalah dukun beranak yang dipercaya puskesmas kelurahan untuk menangani ibu-ibu yang akan mlahirkan di desa ini. Ina, Ina engkau begitu berjasa, aku jadi iri sama Ina yang sudah tua tapi masih bisa menolong orang. Di tengah gelapnya dunia, pelukan lingkungan yang menyeramkan di malam hari tapi di siang hari bagaikan hutan di alam surga, kampung kecil yang aku anggap rendah, masyarakatnya yang aku sebut kampungan tak berpendidikan. Namun inilah yang sebenar-benarnya hidup. Mensyukuri apa yang diberikan tuhan. Alangkah ruginya aku selama ini yang hidup serba berlebihan, namun tak ada sedikitpun manfaatku buat siapapun.
Sejak kejadian malam itu, aku tak pernah lagi bercanda dengan Yono. Situs internet tak pernah lagi berinteraksi dengan mata dan jari-jariku. Tuts handphone maupun laptop tak terdengar lagi. Yang ada hanya catatan-catatan hitam yang mengisi setiap lembaran kertas di atas meja kayu di sudut rumah Ina yang dindingnya sudah lobang-lobang. Punggungku sepertinya sudah terbiasa dengan kerasnya lantai bale-balea yang terbuat dari bambu. Iya itulah tempat tidur sederhana yang disediakan oleh Ina. Dari jendela aku melihat di kejauhan sebelah selatan jalan pulang menuju kali Harari, di situlah tempat masyarakat menyambung hidup sebagai jalur perhubungan menuju kota untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak ada di desa ini. Kali yang ditakuti oleh Yono. Arus yang membawa mati keluarga Mr. Harari. Sepeda kumbang yang membawa kami dari bibir jalan beraspal menuju hutan pohon jambu mente. Aku sedih.
Mengapa yah di negeriku masih ada juga kehidupan semacam ini? Apa yang salah dari didikan nenek moyang terdahulu kepada anaknya? Arwah Bung Karno akan semakin sedih melihat jika kampung ini sampai kiamat tidak menikmati listrik sama sekali. Di kerumunan pikiranku yang tidak jelas kapan sepinya, Yono datang mengajak aku untuk bermain rakit di kali Harari. Daripada pusing lebih baik main rakit.
“boleh! Yuk kita pergi”
“dengan senang hati, hehehe..” Yono mengejekku, mungkin dia menebak-nebak aku sedang rindu dunia maya.
Sampai di kali Yono tidak berani naik rakit duluan. Dia menyuruh aku duluan sekalian mengendalikan rakit. Dasar, yang mengajak siapa, yang diajak siapa? Aku menggerutu.
“huhuiyyy… di sini indah sekali, aku akan ceritakan sama teman-teman tetntang tempat ini, bahkan jika ada waktu aku akan mengajak mereka ke sini, menurutmu Gus?”
“iya, untuk membuktikan itu gimana?” aku bertanya balik.
“iyayah, seandainya saja handphone-ku tidak lawbet kita bisa foto-foto, ahh daripada menghayal kita mandi-mandi saja di sini!”
“apa tidak takut?”
“tidak! Byurrrr…” Yono sudah terjun ke dalam sungai. Dasar si Yono.
“ayo Gus, turun. Di sini segar sekali”
Aku tak mengikuti ajakan Yono, aku berusaha memasang telinga baik-baik mencari-cari di mana asal bunyi itu. Suaranya sangat rebut, seperti air jatuh. Dari kejauhan kali ini kelihatan tak berujung, seakan-akan buntu. Aku langsung mengarahkan rakit ke tepi kali dan mengingatkan Yono untuk menepi.
“ada apa Gus?”
“lihat sepertinya itu air terjun”
“iya juga sih, kedengarannya seperti itu, coba kita lihat”
Kami menuju tempat itu. “ Wowww… kren!” kami serentak terkagum-kagum melihat keindahan alam yang ada di depan mata, seakan mimpi aku saat ini.
“huff.. Gus aku tidak percaya desa yang kampungan ini bisa memiliki semua ini, alam ini.”
“iya Yon, sepertinya ini akan menjadi bahan laporan studi kita nanti yang sangat bernilai.”
“….” Kami terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Aku mulai membuka prcakapan dna berusaha mengingat kembali apa yang aku hayalkan tadi di rumah Ina sebelum datang di sini. Ummh pikiran cerdas.
“Yon, pernahkah kamu membayangkan kita naik rakit sambil foto-foto dan saat itu pula kamu meng-upload foto kamu di Facebook dan menulis status : segarnya mandi di air terjun.”
Ternyata Yon langsung bisa membaca apa yang aku pikirkan, “tentu saja, roda sepeda kumbang yang membawa kita ke ujung jalan ini, air terjun yang begitu menakjubkan, dan kegelapan rumah-rumah masyarakat yang berjumlah 234 KK itu! Menurutmu?”
“jenius kawan”
“ummm…? PLTA!”
Kami serentak. Tiba-tiba Yono menarik aku ke dalam air dan tak terasa hari sudah semakin terik dan perut sudah mulai bernyanyi. Kami pulang dengan segala rencana-rencana emas yang kami dulang dari kali Harari. Maka sejak itu pula kami mulai membuat rancang dan menyusun proposal pendanaan dari PLTA yang akan kami buat. Bermodalkan genset dari rumah kepala desa kami bisa mengisi baterai laptop dan handphone demi kelancaran proyek besar kami. Kami juga melibatkan teman-teman yang tersebar di desa lain karena jika kami hanya berdua, mustahil untuk mendirikan mimpi kami ini. Akhirnya dengan bantuan masyarakat yang juga antusias, pembuatan roda pemutar yang bisa dibuat manual dapat selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Waktu KKP kami sudah habis namun demi membantu masyarakat desa punggaluku kami tetap tinggal dan akan pulang ketika desa ini sudah terang dengan lampu listrik. Alhasil proposal yang diajukan ke pemerintah kota kabupaten direspon baik dan juga bantuan finansial dari ayahku bisa membantu penyelesaian PLTA yang kami buat. Ayahku tidak ragu terhadap apa yang kami lakukan di desa ini. Dia sangat bangga melihat segelintir mahasiswa yang mampu membawa nama baik kampusnya yang selama ini menjadi bahan gunjingan orang, kini bisa bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakatnya bahkan negerinya.
Agus_Giogio meng-update statunya:
Aku kangen Ina, aku janji akan membelikan sepeda kumbang buatmu untuk menolong anak-anak yang akan menjadi pembangun negerimu.
Komentar Mul_Yonojhi sambil meng-upload foto-foto sewaktu di desa:
Liburan setelah wisuda kita ke Punggaluku Yuk.
Sepuluh orang anggota KKP yang terlibat di pembangunan PLTA setuju untuk pergi ke tempat itu. Aku pun sedia dengan sepeda kumbang untuk negeriku.
***

Keterangan:
Ina (ibu)
Ina,Ina.. I Siti keto peana, leumbo deela sakoi’I (ibu, ibu,, Siti akan melahirkan, tolong dibantu)
Lomba-lomba (jendela)
separador

0 komentar:

Posting Komentar

Followers