“Ughh…!”
Bunyi
itu yang hanya bisa keluar dari mulutku sembari menekan tombol TV dan mencabut
paksa colokan. Dadaku bertalu-talu, ingin sekali memarahi, memaki dan
memberontak. Tapi semua nafsu itu sia-sia. Tak ada orang yang bisa memacu
kekesalanku. Jadilah aku raja hutan yang tersesat di negeri tanpa tuan. Sunyi.
Bahkan paduan suara kodok yang tiap malam memenuhi dunia malam tak terdengar
lagi. Aku tak tahu pasti apakah malam ini mereka absen latihan atau mungkin
mereka juga sama denganku. Kecewa.
Kurebahkan
punggungku di atas kasur. Hatiku merayu agar otak ini bisa tenang dan lupa akan
apa yang kutonton di layar TV. Namun gelisah tak mau lari dari pikiran.
Penasaran, oh sangat memilukan untuk dirasakan. Mataku tak mau berpaling dari
layar TV yang begitu gelap, seakan bayang wajahku yang ada di dalam sana
tertawa riang melihat aslinya sedang jengkel.
Aku
berusaha mencari-cari alasan untuk tidak menghidupkan kembali televisi.
Tiba-tiba group band kotak menyanyikan lagu Tendangan dari Langit lewat nada
pesan di handphone-ku.
“Mnurtmu???”
Ternyata
sms dari Yono. Dengan tarikan nafas yang sangat dalam aku mengetik huruf demi
huruf.
“Mnding tdur drpda mkan hti, sdh klah juga.”
Tapi
telunjukku tetap kalah dari saraf otakku yang tadinya tak mau lagi melanjutkan
nonton pertandingan itu. Berharap ada angin segar setelah beberapa menit yang
lalu kulewatkan. Akhirnya TV itu terang lagi. Alhasil gambar yang aku lihat
semakin kacau. Tepat di menit 75 babak ke dua pertandingan sepak bola itu
dihentikan. Supporter dari negeriku sendiri tidak sportif. Tak ada tawar
menawar lagi antara hati dan otakku, kumatikan TV dan langsung tidur membawa
hatiku yang semakin jengkel.
Aku
ingin bermimpi yang indah-indah. Menyanyikan lagu garuda di dadaku dan melihat
pasukan merah putih memegang piala dunia. Kemudian teriakan-teriakan dari para
supporter yang tak tahu lagi dengan cara apa mereka meluapkan kegembiraan. Air
mata pun tak dapat dibendung karena bahagia dalam hati mereka tak dapat
tersimpan lagi. Oh senangnya. Ya, aku sedang bermimpi dan sesungguhnya itulah
mimpiku.
Tapi,
sepertinya ini bukan mimpi. Iya ini bukan mimpi. Teriakan itu masih terdengar.
Alhamdulillah ya, ternyata ini kenyataan. Mungkin aku sedang ketiduran di kursi
stadion.
“aaaaahh…
cepat, cepat,, masuk.”
“
Tidak ada yang boleh keluar kamar….”
Aku
terbangun dan melihat setiap sudut kamar. Ini bukan stadion, tapi ini kamarku.
Ternyata ini memang mimpi. Tapi mengapa di luar ada suara teriakan, rebut-ribut
seperti ada perampokan. Tidak jelas. Aku mencoba memasang telinga baik-baik
untuk memastikan di luar ada kejadian apa. Namun terdengar sayup-sayup dari
kejauhan, semacam imbauan dan gertakan dari seorang laki-laki.
“Mana
yang lain? ……”
“hiks.hiks.hiks….
takut!”
“Jangan
pulang dulu! Di kampus sedang kacau.”
Aku
menarik kesimpulan, lingkungan kampus kacau lagi. Seperti kata bang Haji Roma
Irama, masa muda adalah masa yang berapi-api. Tapi yang ini apinya lain lagi.
Bukan api biasa melainkan api yang mematikan persaudaraan dan membunuh citra
akademisi yang katanya berjiwa intelek, dan menjunjung tinggi almamater.
Perilaku
binatang rimba yang sudah membudaya di sebagian kecil masyarakat kampusku yang
kubanggakan. Entahlah, citra buruk diekspos besar-besaran namun kegiatan lain
yang besar dan bermanfaat, jangankan masuk TV, jadi bahan gosip ibu-ibu rumah
tangga saja tidak laku. Lanjutkan mimpiku ahh…
***
Kenalkan,
namaku Agus Subagio dan teman di samping saya adalah Mulyono. Kedatangan kami
ke desa ini dalam rangka melaksanakan studi lapagan yang biasa disebut Kuliah
Kerja Profesi. Kami semua berjumlah 12 orang, namun terbagi menjadi 2 orang
tiap desa. Insya Allah kami di sini selama 2 bulan. Jadi, kami meminta izin
kepada bapak-bapak semua agar berkenan menerima kami di desa ini. Terimakasih
pula kepada kepala Desa Punggaluku yang telah membantu kami dalam segala urusan
sehingga kami bisa ditempatkan di desa ini untuk melaksanakan KKP.
Menit-menit
yang begitu menegangkan, seumur-umur baru kali ini aku berbicara di depan
banyak orang. Terlebih lagi di depan para aparat desa. Si Yono juga tidak bisa
diharapkan. Tapi, merekakan semua pendidikannya di bawah rata-rata. Buat apa
juga malu. Aahhh… lega..! yang penting sudah dapat izin dari kepala desa,
terserah deh aku mau buat apa. Lagian juga, aku bisa bayar mereka jika
seandainya penilaian ataupun kinerja kita tidak dinilai bagus. Hummm,,
beruntung juga papaku jadi pengusaha,
apapun yang kuinginkan, tinggal bilang. Tahu beres. Dalam hati aku tertawa
puas, dasar orang kampung.
Hari
ini adalah hari pertama kami berada di tempat yang jauh, jauh dan sangat jauh
dari kota. Suara mobil tidak terdengar sama sekali, jangankan mobil jalan
beraspal saja tidak ada. Beruntung tadi kami dijemput oleh ketua RT jadi bisa
tahu jalan. Sekitar 10 kilo kami berjalan memasuki perkebunan jambu mente
memakai ojek sepeda. Kemudian di ujung jalan berhenti. Kami kra sudah sampai.
Tapi di sekitar sini tidak ada perumahan warga. Sambungan jalan tak tahu di
mana. Bersuara Si Yono yang sudah duluan turun dari sepeda.
“kita
mau ke mana nih Pak? Inikan jalan buntu, jangan bilang Pak kalau kita mau
terjun ke sungai.”
“ini
bukan jalan buntu, tapi kita harus menyeberangi kali ini” pak RT langsung
menuju jalan turun ke sungai itu.
Aku
mengikutinya dari belakang, begitu pula Yono. “Ooo…” bibir Yono membulat.
Ternyata di bawah sana ada rakit. Wah asik dong, akhirnya aku juga bisa
merasakan naik rakit. Air sungai ini sangat jernih dan pemandngan di sini
sangat indah. Semuanya masih alami, pohon-pohon besar yang mungkin tiga orang
yang dapat memeluknya menjulang gagah di seberang sana. Bunyi air mengalir.
Udara yang begitu sejuk masuk di paru-paruku yang sudah tercemar polusi kota.
Sambil menggerakkan rakit menuju tepi sungai pak RT menjelaskan tentang sungai
yang sedang kami seberangi.
Kali
ini dulunya bernama kali Ambesea sesuai dengan nama kampung sebelah tempat kali
ini bermuara. Namun setelah kelurga Mr. Harari meninggal akibat terbawa arus
kali ini, maka kali ini diubah menjadi kali Harari. Mendengar itu bulu kudukku
berdiri spontan tanpa kompromi. Yono hanya bisa mendekat dan memegang bahuku,
dasar penakut. Menyembunyikan kelemahanku. Pak RT kembali melanjutkan cerita
setelah kami sampai di tepi sungai. Dulu di desa Ambesea itu terdapat pabrik
kapas yang sangat besar namanya PT. Kapas Indah Indonesia, orang amerika yang
dirikan. Dan Mr. Harari ini adalah kepala kendaraan di pabrik itu. Saat mereka
ingin berlibur di kota Mr. Harari dan keluarganya naik mobil dan menyeberagi
kali ini yang saat itu airnya sedang surut. Tapi di pertengan kali, tiba-tiba
banjir datang dan langsung membawa mobil Mr. Harari. Sehingga mobil itu
berguling-guling mengikuti kemana saja arus kali itu pergi. Sekitar dua hari
baru mayat mereka semua ditemukan.
“oh
begitu yah pak, tragis juga ceritanya kali ini”
“ah,,
bilang saja kalau kamu takut” cetusku.
“nah,
kita sudah sampai, Dek.” Pak RT memotong pembicaraan kami.
Jika
mengingat perjalanan tadi aku jadi merinding. Desa sekecil ini punya cerita
misteri juga. Hummm…
Hari
sudah mulai gelap, tapi tidak ada satu pun yang mau menyalakan lampu. Tiba-tiba
Yono teriak.
“aduh…
kurang ajar nih pintu!”
“makanya
itu mata digunakan sesuai fungsinya, jangan di simpan di lutut”
“kamu
itu bukannya menyalkan lampu malah mengejek” Yono kesal.
Aku
mencari-cari saklar lampu ataupun colokan, tapi tidak ketemu. Aku mencoba
melihat mungkin saja ada kabel-kabel yang menjalar di sekitar dinding rumah
ini, tapi kok tidak kelihatan. Tanya saja deh sama ina-ina pemilik rumah ini.
Tiba-tiba saja Ina datang dengan sebuah cahaya yang keluar dari pipet besi yang
lumayan yang menancap di blek susu yang kemasannya sudah kusam bahkan merknya
sudah tak terbaca lagi.
“Nak,
ini lampunya, kalau hari sudah semakin gelap jangan lupa lomba-lomba ditutup” sambil menunjuk jendela di belakangku, suara
Ina sangat lembut dan cara bicaranya sangat berhati-hati, “setelah mahgrib baru
kita makan malam”. Ina meninggalkan kami dalam keadaan bingung. Antara percaya
dan tidak, di sini tidak ada listrik. Mungkin Ina tidak sanggup untuk
memasukkan listrik di rumahnya. Yono tinggal mengulang-ngulang kata lomba-lomba sambil menggaruk kepalanya.
“eh
Yon daripada kamu jadi gila karena lomba-lomba
lebih baik kamu tutup itu jendela. Tenang saja kalau handphone sam laptop kita
lawbet, bbesok kita ke rumah pak RT atau pak Kades saja.” Menghibur Yono yang
seakan tidak bisa menerima kenyataan.
“hummm..
baiklah” Yono hanya bisa menarik napas panjang.
Setelah
mahgrib Ina menyiapkan kami makan malam. Oh Ina, engkau begitu baik pada kami.
Dengan makanan sederhana kami makan begitu lahap, tak banyak protes karena ini
rumah Ina bukan rumah mama. Jadi harus mengerti. Tiba-tiba Yono bertanya.
“Ina,
di sini tinggal sendiri? Kok sepi.”
“anak-anak
dan cucu saya semuanya merantau, sesekali pulang lebaran kalau ada waktu. Ama
sudah lama meninggal.”
Serentak
aku dan Yono, “Ooo…” aku menyambung, “Ama itu anaknya Ina yah?”
“Ama
adalah suami saya”
“maaf
yah Ina, kami tidak tahu”
“tidak
apa-apa, Nak.”
“Setelah
makan kita jalan-jalan ke rumah-rumah penduduk yah Gus.” Ajak Yono, mengalihkan
pembicaraan.
“hati-hati
jalan malam, di sini gelap jadi biar terang bawa obor” Ina langsung menyerbu
padahal aku baru saja mau mengiyakan. Tapi sepertinya ada yang mengganjal.
“apa
tidak ada lampu jalan?” tanyaku cepat.
“di
desa kita belum masuk listrik”
“hahhh..!”
kami serentak. Yono sampai tersedak dan cepat-cepat Ina member air minum.
“hati-hati,
Nak. Di sini tidak bisa masuk listrik, di samping tempatnya jauh, pemerintah
juga tidak sanggup untuk mengurus itu, jadi sabar saja.”
“e..e..eiya
Ina” Yono gugup.
Aku
mengurut-urut leher Yono, namun dalam hati aku sepertinya akan gila tinggal di
desa ini. Belum lagi kita di sini selam dua bulan. Oh tuhan, aku akan rindu
facebook, twitter, Blog, game, terlebih lagi ga pake handphone selama sebulan.
Hummm… Gus, Yon selamat yah masuk di wilayah pedalaman tanpa listrik, internet,
hiburan… hiks.hiks.hiks..
“Ina,Ina.. I Siti keto peana, leumbo deela sakoi’i” Tiba-tiba
saja datang seorang bapak memanggil-manggil Ina. Ina tidak berkata apa-apa, dia
langsung menyalakan obor lalu keluar mengikuti bapak itu. Kami pun juga lansung
mengikut saja tanpa tahu apa yang sedang terjadi, yang jelas ada masalah
penting yang harus diselesaikan dan hanya Ina yang dipercaya untuk itu.
Setelah
tiba di rumah bapak itu. Kami menunjumpai seorang ibu yang sedang merintih
kesakitan, ternyata ibu itu akan melahirkan dan Ina adalah dukun beranak yang
dipercaya puskesmas kelurahan untuk menangani ibu-ibu yang akan mlahirkan di
desa ini. Ina, Ina engkau begitu berjasa, aku jadi iri sama Ina yang sudah tua
tapi masih bisa menolong orang. Di tengah gelapnya dunia, pelukan lingkungan
yang menyeramkan di malam hari tapi di siang hari bagaikan hutan di alam surga,
kampung kecil yang aku anggap rendah, masyarakatnya yang aku sebut kampungan
tak berpendidikan. Namun inilah yang sebenar-benarnya hidup. Mensyukuri apa
yang diberikan tuhan. Alangkah ruginya aku selama ini yang hidup serba
berlebihan, namun tak ada sedikitpun manfaatku buat siapapun.
Sejak
kejadian malam itu, aku tak pernah lagi bercanda dengan Yono. Situs internet
tak pernah lagi berinteraksi dengan mata dan jari-jariku. Tuts handphone maupun laptop tak terdengar
lagi. Yang ada hanya catatan-catatan hitam yang mengisi setiap lembaran kertas
di atas meja kayu di sudut rumah Ina yang dindingnya sudah lobang-lobang.
Punggungku sepertinya sudah terbiasa dengan kerasnya lantai bale-balea yang terbuat dari bambu. Iya
itulah tempat tidur sederhana yang disediakan oleh Ina. Dari jendela aku
melihat di kejauhan sebelah selatan jalan pulang menuju kali Harari, di situlah
tempat masyarakat menyambung hidup sebagai jalur perhubungan menuju kota untuk
membeli perlengkapan dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak ada di desa ini. Kali
yang ditakuti oleh Yono. Arus yang membawa mati keluarga Mr. Harari. Sepeda
kumbang yang membawa kami dari bibir jalan beraspal menuju hutan pohon jambu
mente. Aku sedih.
Mengapa
yah di negeriku masih ada juga kehidupan semacam ini? Apa yang salah dari
didikan nenek moyang terdahulu kepada anaknya? Arwah Bung Karno akan semakin
sedih melihat jika kampung ini sampai kiamat tidak menikmati listrik sama
sekali. Di kerumunan pikiranku yang tidak jelas kapan sepinya, Yono datang
mengajak aku untuk bermain rakit di kali Harari. Daripada pusing lebih baik
main rakit.
“boleh!
Yuk kita pergi”
“dengan
senang hati, hehehe..” Yono mengejekku, mungkin dia menebak-nebak aku sedang
rindu dunia maya.
Sampai
di kali Yono tidak berani naik rakit duluan. Dia menyuruh aku duluan sekalian
mengendalikan rakit. Dasar, yang mengajak siapa, yang diajak siapa? Aku
menggerutu.
“huhuiyyy…
di sini indah sekali, aku akan ceritakan sama teman-teman tetntang tempat ini,
bahkan jika ada waktu aku akan mengajak mereka ke sini, menurutmu Gus?”
“iya,
untuk membuktikan itu gimana?” aku bertanya balik.
“iyayah,
seandainya saja handphone-ku tidak
lawbet kita bisa foto-foto, ahh daripada menghayal kita mandi-mandi saja di
sini!”
“apa
tidak takut?”
“tidak!
Byurrrr…” Yono sudah terjun ke dalam sungai. Dasar si Yono.
“ayo
Gus, turun. Di sini segar sekali”
Aku
tak mengikuti ajakan Yono, aku berusaha memasang telinga baik-baik mencari-cari
di mana asal bunyi itu. Suaranya sangat rebut, seperti air jatuh. Dari kejauhan
kali ini kelihatan tak berujung, seakan-akan buntu. Aku langsung mengarahkan
rakit ke tepi kali dan mengingatkan Yono untuk menepi.
“ada
apa Gus?”
“lihat
sepertinya itu air terjun”
“iya
juga sih, kedengarannya seperti itu, coba kita lihat”
Kami
menuju tempat itu. “ Wowww… kren!” kami serentak terkagum-kagum melihat
keindahan alam yang ada di depan mata, seakan mimpi aku saat ini.
“huff..
Gus aku tidak percaya desa yang kampungan ini bisa memiliki semua ini, alam
ini.”
“iya
Yon, sepertinya ini akan menjadi bahan laporan studi kita nanti yang sangat
bernilai.”
“….”
Kami terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Aku
mulai membuka prcakapan dna berusaha mengingat kembali apa yang aku hayalkan
tadi di rumah Ina sebelum datang di sini. Ummh pikiran cerdas.
“Yon,
pernahkah kamu membayangkan kita naik rakit sambil foto-foto dan saat itu pula
kamu meng-upload foto kamu di
Facebook dan menulis status : segarnya mandi di air terjun.”
Ternyata
Yon langsung bisa membaca apa yang aku pikirkan, “tentu saja, roda sepeda
kumbang yang membawa kita ke ujung jalan ini, air terjun yang begitu
menakjubkan, dan kegelapan rumah-rumah masyarakat yang berjumlah 234 KK itu!
Menurutmu?”
“jenius
kawan”
“ummm…?
PLTA!”
Kami
serentak. Tiba-tiba Yono menarik aku ke dalam air dan tak terasa hari sudah
semakin terik dan perut sudah mulai bernyanyi. Kami pulang dengan segala
rencana-rencana emas yang kami dulang dari kali Harari. Maka sejak itu pula
kami mulai membuat rancang dan menyusun proposal pendanaan dari PLTA yang akan
kami buat. Bermodalkan genset dari rumah kepala desa kami bisa mengisi baterai
laptop dan handphone demi kelancaran
proyek besar kami. Kami juga melibatkan teman-teman yang tersebar di desa lain
karena jika kami hanya berdua, mustahil untuk mendirikan mimpi kami ini.
Akhirnya dengan bantuan masyarakat yang juga antusias, pembuatan roda pemutar
yang bisa dibuat manual dapat selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Waktu
KKP kami sudah habis namun demi membantu masyarakat desa punggaluku kami tetap
tinggal dan akan pulang ketika desa ini sudah terang dengan lampu listrik.
Alhasil proposal yang diajukan ke pemerintah kota kabupaten direspon baik dan juga
bantuan finansial dari ayahku bisa membantu penyelesaian PLTA yang kami buat.
Ayahku tidak ragu terhadap apa yang kami lakukan di desa ini. Dia sangat bangga
melihat segelintir mahasiswa yang mampu membawa nama baik kampusnya yang selama
ini menjadi bahan gunjingan orang, kini bisa bermanfaat bagi diri sendiri,
masyarakatnya bahkan negerinya.
Agus_Giogio
meng-update statunya:
Aku kangen Ina, aku janji akan membelikan sepeda kumbang
buatmu untuk menolong anak-anak yang akan menjadi pembangun negerimu.
Komentar
Mul_Yonojhi sambil meng-upload
foto-foto sewaktu di desa:
Liburan setelah wisuda kita ke Punggaluku Yuk.
Sepuluh
orang anggota KKP yang terlibat di pembangunan PLTA setuju untuk pergi ke
tempat itu. Aku pun sedia dengan sepeda kumbang untuk negeriku.
***
Keterangan:
Ina
(ibu)
Ina,Ina.. I Siti keto peana, leumbo deela sakoi’I (ibu,
ibu,, Siti akan melahirkan, tolong dibantu)
Lomba-lomba (jendela)




0 komentar:
Posting Komentar